Kami sekedar mengajak anda membayangkan satu hal. Andai saja
maulid nabi tidak ada, atau lebih tepatnya ditiadakan sejak 50 tahun yang lalu,
mungkin kita akan bertanya-tanya, siapa Muhammad itu? Jawaban yang kemudian
muncul adalah, tentu saja dia adalah nabi kita sebagaimana tercantum dalam
kalimat syahadat yang kita ucapkan
50 tahun kemudian…
Anak cucu kita mungkin akan
bertanya lagi, siapa Muhammad itu, kok kita disuruh ngikuti dia terus?
(pertanyaan yang mulai kurang sopan) apa sih istimewanya dia? Bukankah akan lebih simple kalau kita melihat tokoh-tokoh kita
yang bisa secara langsung kita saksikan. Toh mereka juga orang baik kok. Sama
seperti Muhammad
Pendeknya, semakin lama orang
makin tidak tahu dan makin bingung dengan nama yang telah menjadi syarat mutlak
keislaman mereka. Ketidak tahu menahuan ini ketika ditanggapi dengan jawaban : “ah, dia itu
cuma manusia biasa seperti kita. Beda kita sama dia hanya masalah dia dapat
wahyu dan kita tidak. Itu saja. Tak lebih.” maka akan menimbulkan berbagai informasi yang simpang siur, bahkan
cenderung menyesatkan
…………………………………….




